Tak terasa Bulan Ramadhan hampir selesai. Namun, tak maksimal yang ku isi pada bulan itu. Terimalah amal ibadahku dan orangtuaku Yaa Rabb.
Hari nan suci akan tiba. 3 tahun yang lalu kenanganku bersamanya. Seseorang yang tak pernah ku kenal sebelumnya. Akankah pada hari nan suci nanti ia akan datang. Meski bukan untuk menemuiku, tapi sekedar silaturrahim. Apakah dia tau bahwa ku disini menantinya. Aku merindukannya, apakah dia tau? Aku yakin dia tak tau. Dan bila hendak dia kemari aku ingin sekali menanyakan, sebenarnya apa maksud perkataannya 3 tahun yang silam. Apakah maksudnya, mencintaiku, memilikiku?
Ah tak mungkin, aku terlalu PD bila berfikiran seperti itu.
Semoga dirinya hadir pada malam nan suci, malam yang ditunggu semua kaum muslim dimuka bumi.
ALLAHU AKBAR ALLAHU AKBAR LAILAAHAILLAWLOOHU WAWLOOHU AKBAR ALLAHU AKBAR WALILLAAHILHAM.
Taqobalawlohu mina wa mingkum, siamana wa siamakum. Minal 'aidzin wal fa'idzin. Mohon maaf lahir dan batin.
Ya Rabb, hadirkanlah dirinya pada hari nan suci nanti. Dan berilah aku kemudahan untuk menanyakan padanya maksud perkataannya saat itu.
Aamin Ya 4w1 Yaa Rabbal 'Alamin..
Rabu, 08 September 2010
Minggu, 29 Agustus 2010
Kenangan masa lalu bersama seorang Ikhwan yang tak lain adalah saudaraku namun bukan muhrimku.Tepatnya hari senin kalau tak salah tanggal 2 Syawal 1438 H. Kami pergi berkisar 13 orang.
Kenangan yang tak pernah terbayangkan olehku. Ikhwan yang ku anggap sebagai kaka. Ketika di Ciwidey tepatnya di Walini kami refreshing. Hari itu adalah hari lebaran, tentu tempat wisata sangat ramai dikunjungi. Ketika hendak kami pulang, ternyata jalanan sangat ramai dipenuhi kendaraan, salah satunya kami. Kendaraan sama sekali tidak berkutik. Menunggu itu, kami makan siomay. Kebetulan aku makan dan mengobrol dengan saudaraku. Dan saat aku makan, Ikhwan itu mengucapkan apa yang tak pernah aku bayangkan. Ia berkata "Ci, jadi kita bisa M . . . . . . ,dong?" Jujur saat itu aku tak mengerti dengan apa yang diucapkannya. Aku melanjutkan makan siomay, seolah-olah aku tak peduli dengan apa yang ia ucapkan tadi. Namun tak bisa ku pungkiri sepanjang perjalanan pulang, perkataannya tak pernah lepas dari pikiranku. Saat itu, aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang ia ucapkan saat itu. Dalam mobil kami para remaja bercanda dan tebak-tebakan.
Seketika aku mengerti perkataannya. Ingin kutanyakan pada dirinya apa maksud perkataannya itu. Namun, tak ada keberanian dalam diriku. Dia menasehatiku, "jangan dulu pacaran ya dek! Sekarang belajar dulu aja yang benar." Selalu ku ingat pesannya saat itu. Hingga akhirnya aku berprinsip "tidak akan berpacaran sebelum lulus sekolah!!" Namun, saat ini prinsip itu ku ganti menjadi "tidak akan berpacaran sebelum kuliah semester . . . . atau bahkan akan menjalankan ta'aruf saja."
Senjapun tiba, kami masih terjebak kemacetan di Ciwidey. Katanya ada bus yang terguling ke jalan sehingga hanya 1 arah jalan yang dipakai untuk jalur kendaraan. Aku, bang Atan, Ka Siti dan Ikhwan itu berinisiatif untuk menunaikan Shalat Maghrib. Usai shalat, kami minum bandrek. Kemudian kami kembali ke mobil, dan tek lama setelah itu salah satu saudaraku datang membawa nasi goreng.
Dan malampun tiba, adzan isya telah berkumandang sejak kami makan tadi. Usai makan, aku mengajak bang Atan, Ka Siti, dan Ikhwan tadi untuk shalat. Namun, hanya Ikhwan itu yang mau shalat isya bersamaku. Jarak dari mobil menuju mushola lumayan agak jauh. Suhu di Ciwidey pada malam itu sangat begitu dingin. Ketika jalan menuju mesjid, ku pegang erat tangannya. Aku sangat sadar saat itu, aku tak kendalikan emosi atau syakhwatku. Aku mengartikan perkataan yang tadi ia ucapkan mungkin ia menyukaiku. Mungkin aku salah mengartikan ucapannya. Biarlah! dalam benakku.
Sekitar jam 22.30, kendaraan mulai bisa bergerak. Dan jam 23.00 keadaan jalan di Ciwidey mulai stabil. Akhirnya kurang lebih jam 00.00 kami tiba di rumah.
Perkataan yang pernah ia ucapkan padaku 3 tahun yang lalu, sampai saat ini masih selalu terpikirkan olehku. Dan akupun masih mempertanyakan apa maksud perkataannya saat itu. Pernah ku tanyakan padanya, namun dengan entengnya dia berkata "mungkin uci salah dengar waktu itu, udahlah ga usah dipikirin lagi." Mulai saat itu aku bertekad untuk melupakan kenangan bersamanya, perkataan yang pernah ia katakan padaku, dan semua tentangnya.
Saat ini, aku bisa berkomunikasi dengannya lewat facebook, bahkan dia sendiri yang menambahkanku sebagai temannya di facebook. Aku masih menantikan penjelasan darinya tentang apa maksud perkataannya saat itu.
Sebenarnya apa maksud perkataannya itu Yaa Robb?? Berilah aku petunjuk darimu.
Jika memang ia jodohku maka dekatkanlah. Dan jika memang dia bukan jodohku maka dekatkanlah aku pada jodoh yang akan engkau berikan padaku. Aamin Yaa Robbal 'Alamin..
Kenangan yang tak pernah terbayangkan olehku. Ikhwan yang ku anggap sebagai kaka. Ketika di Ciwidey tepatnya di Walini kami refreshing. Hari itu adalah hari lebaran, tentu tempat wisata sangat ramai dikunjungi. Ketika hendak kami pulang, ternyata jalanan sangat ramai dipenuhi kendaraan, salah satunya kami. Kendaraan sama sekali tidak berkutik. Menunggu itu, kami makan siomay. Kebetulan aku makan dan mengobrol dengan saudaraku. Dan saat aku makan, Ikhwan itu mengucapkan apa yang tak pernah aku bayangkan. Ia berkata "Ci, jadi kita bisa M . . . . . . ,dong?" Jujur saat itu aku tak mengerti dengan apa yang diucapkannya. Aku melanjutkan makan siomay, seolah-olah aku tak peduli dengan apa yang ia ucapkan tadi. Namun tak bisa ku pungkiri sepanjang perjalanan pulang, perkataannya tak pernah lepas dari pikiranku. Saat itu, aku benar-benar tak mengerti dengan apa yang ia ucapkan saat itu. Dalam mobil kami para remaja bercanda dan tebak-tebakan.
Seketika aku mengerti perkataannya. Ingin kutanyakan pada dirinya apa maksud perkataannya itu. Namun, tak ada keberanian dalam diriku. Dia menasehatiku, "jangan dulu pacaran ya dek! Sekarang belajar dulu aja yang benar." Selalu ku ingat pesannya saat itu. Hingga akhirnya aku berprinsip "tidak akan berpacaran sebelum lulus sekolah!!" Namun, saat ini prinsip itu ku ganti menjadi "tidak akan berpacaran sebelum kuliah semester . . . . atau bahkan akan menjalankan ta'aruf saja."
Senjapun tiba, kami masih terjebak kemacetan di Ciwidey. Katanya ada bus yang terguling ke jalan sehingga hanya 1 arah jalan yang dipakai untuk jalur kendaraan. Aku, bang Atan, Ka Siti dan Ikhwan itu berinisiatif untuk menunaikan Shalat Maghrib. Usai shalat, kami minum bandrek. Kemudian kami kembali ke mobil, dan tek lama setelah itu salah satu saudaraku datang membawa nasi goreng.
Dan malampun tiba, adzan isya telah berkumandang sejak kami makan tadi. Usai makan, aku mengajak bang Atan, Ka Siti, dan Ikhwan tadi untuk shalat. Namun, hanya Ikhwan itu yang mau shalat isya bersamaku. Jarak dari mobil menuju mushola lumayan agak jauh. Suhu di Ciwidey pada malam itu sangat begitu dingin. Ketika jalan menuju mesjid, ku pegang erat tangannya. Aku sangat sadar saat itu, aku tak kendalikan emosi atau syakhwatku. Aku mengartikan perkataan yang tadi ia ucapkan mungkin ia menyukaiku. Mungkin aku salah mengartikan ucapannya. Biarlah! dalam benakku.
Sekitar jam 22.30, kendaraan mulai bisa bergerak. Dan jam 23.00 keadaan jalan di Ciwidey mulai stabil. Akhirnya kurang lebih jam 00.00 kami tiba di rumah.
Perkataan yang pernah ia ucapkan padaku 3 tahun yang lalu, sampai saat ini masih selalu terpikirkan olehku. Dan akupun masih mempertanyakan apa maksud perkataannya saat itu. Pernah ku tanyakan padanya, namun dengan entengnya dia berkata "mungkin uci salah dengar waktu itu, udahlah ga usah dipikirin lagi." Mulai saat itu aku bertekad untuk melupakan kenangan bersamanya, perkataan yang pernah ia katakan padaku, dan semua tentangnya.
Saat ini, aku bisa berkomunikasi dengannya lewat facebook, bahkan dia sendiri yang menambahkanku sebagai temannya di facebook. Aku masih menantikan penjelasan darinya tentang apa maksud perkataannya saat itu.
Sebenarnya apa maksud perkataannya itu Yaa Robb?? Berilah aku petunjuk darimu.
Jika memang ia jodohku maka dekatkanlah. Dan jika memang dia bukan jodohku maka dekatkanlah aku pada jodoh yang akan engkau berikan padaku. Aamin Yaa Robbal 'Alamin..
Rabu, 30 Juni 2010
"Berfikirlah sebelum bertindak." itulah prinsip yang selalu dipegang teguh oleh Nadzirul yang biasa dipanggil Irul.
Suatu tindakan yang ia lakukan saat ini.
Irul melakukan suatu tindakan yang dapat menyakitkan dirinya, tapi disisi lain ia ingin membahagiakan orang lain. Ia mengikuti suatu organisasi Rohis, 1 minggu sebelum demo belum ada tanda-tanda persiapan Rohis untuk demo. Irul sendiri tak percaya, mengapa menjadi seperti ini. Irul sadar, ia bukanlah siapa-siapa di organisasi itu. Tapi, ia tak mau melihat Rohis bubar. Ia sendiri tak tau apa yang membuat Rohis seperti itu. Ia ingin membantu agar Rohis bisa demo, meski ia tau ia tak sanggup melakukan itu. Saat ini, ia sedang berusaha melakukan yang terbaik untuk organisasi Rohis. Ia mengajak teman-temannya untuk persiapan demo, meskipun bukan anggota Rohis. Ia mengorbankan waktu, keluarga, dan dirinya sendiri. Bahkan sebenarnya ia tau ia tak boleh terlalu beraktivitas. Karena saat ini ia mengidap penyakit TBC, ia tak boleh kecapean juga kedinginan. Penyakit yang baru saja ia tau, karena ia selalu menganggap batuk adalah penyakit yang selalu ia idap. Hari jum'at (25/06) itulah ia penasaran dengan penyakitnya, akhirnya ia datang ke R.S Immanuel. Hari itulah ia tau bahwa ia mengidap penyakit yang mematikan. Ia ingin melakukan sesuatu terhadap orang-orang sekitarnya. Ia tak ingin menyia-yiakan waktunya, meski ia tak tau kapan ajalnya datang.
Irul sadar banyak kesalahannya dimasa lampau. Ia memang selalu cerita pada teman dekatnya bila ia menyukai akhwat. Tapi temannya tak tau bahwa rasa sukanya itu hanya sebatas rasa kagum. Karena akhwat yang sebenarnya ia cintai hanya 1 dari smp kelas 3 sampai ia sma kelas 2 saat ini. Padahal ia tak pernah bertemu dengan akhwat itu selama 7 bulan. Tapi ia tak tau mengapa bayang-bayang akhwat itu semakin melekat dalam benaknya. Namun, ia belum yakin dengan perasaannya pada akhwat itu. Irul belum yakin bahwa akhwat itu adalah Cinta Pertamanya. Dan saat ini ia hanya bisa bernaung pada Allah swt.
Ia yakin jika akhwat itu jodohnya, Allah akan mempertemukannya. Dan bila bukan akhwat itu jodohnya, ia mengharap akhwat yang bisa bersama-sama membangun keluarganya.
Suatu tindakan yang ia lakukan saat ini.
Irul melakukan suatu tindakan yang dapat menyakitkan dirinya, tapi disisi lain ia ingin membahagiakan orang lain. Ia mengikuti suatu organisasi Rohis, 1 minggu sebelum demo belum ada tanda-tanda persiapan Rohis untuk demo. Irul sendiri tak percaya, mengapa menjadi seperti ini. Irul sadar, ia bukanlah siapa-siapa di organisasi itu. Tapi, ia tak mau melihat Rohis bubar. Ia sendiri tak tau apa yang membuat Rohis seperti itu. Ia ingin membantu agar Rohis bisa demo, meski ia tau ia tak sanggup melakukan itu. Saat ini, ia sedang berusaha melakukan yang terbaik untuk organisasi Rohis. Ia mengajak teman-temannya untuk persiapan demo, meskipun bukan anggota Rohis. Ia mengorbankan waktu, keluarga, dan dirinya sendiri. Bahkan sebenarnya ia tau ia tak boleh terlalu beraktivitas. Karena saat ini ia mengidap penyakit TBC, ia tak boleh kecapean juga kedinginan. Penyakit yang baru saja ia tau, karena ia selalu menganggap batuk adalah penyakit yang selalu ia idap. Hari jum'at (25/06) itulah ia penasaran dengan penyakitnya, akhirnya ia datang ke R.S Immanuel. Hari itulah ia tau bahwa ia mengidap penyakit yang mematikan. Ia ingin melakukan sesuatu terhadap orang-orang sekitarnya. Ia tak ingin menyia-yiakan waktunya, meski ia tak tau kapan ajalnya datang.
Irul sadar banyak kesalahannya dimasa lampau. Ia memang selalu cerita pada teman dekatnya bila ia menyukai akhwat. Tapi temannya tak tau bahwa rasa sukanya itu hanya sebatas rasa kagum. Karena akhwat yang sebenarnya ia cintai hanya 1 dari smp kelas 3 sampai ia sma kelas 2 saat ini. Padahal ia tak pernah bertemu dengan akhwat itu selama 7 bulan. Tapi ia tak tau mengapa bayang-bayang akhwat itu semakin melekat dalam benaknya. Namun, ia belum yakin dengan perasaannya pada akhwat itu. Irul belum yakin bahwa akhwat itu adalah Cinta Pertamanya. Dan saat ini ia hanya bisa bernaung pada Allah swt.
Ia yakin jika akhwat itu jodohnya, Allah akan mempertemukannya. Dan bila bukan akhwat itu jodohnya, ia mengharap akhwat yang bisa bersama-sama membangun keluarganya.
Selasa, 29 Juni 2010
Begitu lega saat ini
Ketika ku ungkapkan rasa ini
Sekian tahun ku pendam semua ini
Berbelas-belas tahun kau buatku begini
Namun percuma bilaku terus begini
Ku mengerti saat ini
Telah dapatkan hikmah tersembunyi
Yang membuatku menjadi seperti ini
Saat ini ku mengungkap isi hati
Waktu yang diberikan Illahi Rabbi
Ku berharap saat ini
Ibu yang melahirkanku akan selalu begini
Selalu berada di jalan Illahi Rabbi..
Aamin.. Yaa 4w1 Yaa Robbal 'Alamin..
Ketika ku ungkapkan rasa ini
Sekian tahun ku pendam semua ini
Berbelas-belas tahun kau buatku begini
Namun percuma bilaku terus begini
Ku mengerti saat ini
Telah dapatkan hikmah tersembunyi
Yang membuatku menjadi seperti ini
Saat ini ku mengungkap isi hati
Waktu yang diberikan Illahi Rabbi
Ku berharap saat ini
Ibu yang melahirkanku akan selalu begini
Selalu berada di jalan Illahi Rabbi..
Aamin.. Yaa 4w1 Yaa Robbal 'Alamin..
Senin, 28 Juni 2010
Ku menemukan rasa cinta itu, ketika ku berada di bangku smp kelas IX..
Saat itu, benar" ku tak sadar dengan perasaanku padanya. Yang ku lakukan hanya untuknya, agar dia bahagia. Ku mencari semua tentangnya, tentang orang yang ia sukai. Aku pun bingung dengan tindakanku, aku tak tau kenapa aku begini. Hanya 1 keinginanku untuknya, ingin selalu melihatnya bahagia, meski aku tau hati ini berat untuk melepasmu.
Menjelang akhir smp, ku sadar semua yang kurasakan. Ku sadar bahwa dirimu telah membius hatiku. Saat itu pun ku mendapatkan ketenangan, ku merasa dekat dengan Illahi Rabbi. Namun entah mengapa, ku merasa waktu itu datang padaku. Waktu itu berbicara padaku, bahwa kaupun menyukaiku. Namun, ketika ku tak pernah berjumpa denganmu. Ku tanyakan padamu bagaimana perasaanmu padaku. Dan dirimu tak memiliki rasa suka padaku.
Benar apa yang dirimu ucapkan padaku.
"Memang sakit kalau orang yang kita cintai tidak mencintai kita. Dan apakah kita hanya itu yang harus kita pikirkan."
Sebuah kiasan yang simple, tapi bermakna bagiku..
Dia membuatku sadar tentang kehidupan yang kujalani ini. Allah menunjukkan jalan padaku melaluinya. Aku mengerti akan Cinta, Kasih Sayang, dan Persahabatan. Cinta pada Allah, orangtua, dan manusia.
Perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya, baru kutemukan saat ku mengenalnya. Banyak perubahan dalam pola pikirku karnanya. Mungkin bila ia tak ku kenal, aku tak bisa membuat keluargaku seperti ini. Keadaan keluarga yang kuharapkan, akhirnya terwujud. Terimakasih Yaa Rabbi.. Kau selalu memberikan apa yang hamba-Mu butuhkan.
Wajah Ibuku mengingatkanku pada ikhwan yang ku suka dulu sampai saat ini. 1 tahun ku tak pernah melihat wajahnya, hanya melalui pesan singkat ku berkomunikasi itupun jarang. Dan itupun kalau ku ada keperluan padanya. Ku sangat berharap padanya dulu, namun hanya akan membuatku jatuh. Saat ini, tak ada 1pun ikhwan yang mampu mengisi ruang hatiku. Tak ingin ku berharap lagi akan cintanya, aku tak ingin jatuh pada lubang yang sama.
Dan aku hanya akan berharap pada Allah swt.
Sampai saat ini, aku tak tau siapa orang ia sukai saat itu yang merupakan 'cinta pertamanya'. Dan akupun tak tau apakah dia cinta pertamaku, atau hanya cinta yang lewat. Aku belum yakin dengan perasaan cintaku padanya. Saat ini aku hanya bisa berdo'a, dan selalu meminta petunjuk akan cintaku padanya kepada Sang Maha Kuasa.
Aku mendapat kesimpulan :
"Cinta tidak harus memiliki, tapi bila kita benar-benar mencintai seseorang lebih baik kita membuatnya bahagia bersama orang yang dipilihnya. Jodoh sudah ditentukan oleh Allah swt."
Apa yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah swt. Dan apa yang buruk menurut kita belum tentu buruk menurut Allah swt.
Saat itu, benar" ku tak sadar dengan perasaanku padanya. Yang ku lakukan hanya untuknya, agar dia bahagia. Ku mencari semua tentangnya, tentang orang yang ia sukai. Aku pun bingung dengan tindakanku, aku tak tau kenapa aku begini. Hanya 1 keinginanku untuknya, ingin selalu melihatnya bahagia, meski aku tau hati ini berat untuk melepasmu.
Menjelang akhir smp, ku sadar semua yang kurasakan. Ku sadar bahwa dirimu telah membius hatiku. Saat itu pun ku mendapatkan ketenangan, ku merasa dekat dengan Illahi Rabbi. Namun entah mengapa, ku merasa waktu itu datang padaku. Waktu itu berbicara padaku, bahwa kaupun menyukaiku. Namun, ketika ku tak pernah berjumpa denganmu. Ku tanyakan padamu bagaimana perasaanmu padaku. Dan dirimu tak memiliki rasa suka padaku.
Benar apa yang dirimu ucapkan padaku.
"Memang sakit kalau orang yang kita cintai tidak mencintai kita. Dan apakah kita hanya itu yang harus kita pikirkan."
Sebuah kiasan yang simple, tapi bermakna bagiku..
Dia membuatku sadar tentang kehidupan yang kujalani ini. Allah menunjukkan jalan padaku melaluinya. Aku mengerti akan Cinta, Kasih Sayang, dan Persahabatan. Cinta pada Allah, orangtua, dan manusia.
Perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya, baru kutemukan saat ku mengenalnya. Banyak perubahan dalam pola pikirku karnanya. Mungkin bila ia tak ku kenal, aku tak bisa membuat keluargaku seperti ini. Keadaan keluarga yang kuharapkan, akhirnya terwujud. Terimakasih Yaa Rabbi.. Kau selalu memberikan apa yang hamba-Mu butuhkan.
Wajah Ibuku mengingatkanku pada ikhwan yang ku suka dulu sampai saat ini. 1 tahun ku tak pernah melihat wajahnya, hanya melalui pesan singkat ku berkomunikasi itupun jarang. Dan itupun kalau ku ada keperluan padanya. Ku sangat berharap padanya dulu, namun hanya akan membuatku jatuh. Saat ini, tak ada 1pun ikhwan yang mampu mengisi ruang hatiku. Tak ingin ku berharap lagi akan cintanya, aku tak ingin jatuh pada lubang yang sama.
Dan aku hanya akan berharap pada Allah swt.
Sampai saat ini, aku tak tau siapa orang ia sukai saat itu yang merupakan 'cinta pertamanya'. Dan akupun tak tau apakah dia cinta pertamaku, atau hanya cinta yang lewat. Aku belum yakin dengan perasaan cintaku padanya. Saat ini aku hanya bisa berdo'a, dan selalu meminta petunjuk akan cintaku padanya kepada Sang Maha Kuasa.
Aku mendapat kesimpulan :
"Cinta tidak harus memiliki, tapi bila kita benar-benar mencintai seseorang lebih baik kita membuatnya bahagia bersama orang yang dipilihnya. Jodoh sudah ditentukan oleh Allah swt."
Apa yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah swt. Dan apa yang buruk menurut kita belum tentu buruk menurut Allah swt.
Jumat, 25 Juni 2010
Menikmati sejuk hari
Di iringi nyanyian diri
Yang sedang duduk sendiri
Di bawah tetesan air hati
Tak pernah menjadi seperti ini
Kejadian yang membuat begini
Membuat bahagia menjadi sedih
Merubah sedih menjadi merintih
Beribu tetes air mata menghampiri
Tak mampu membuatnya kembali
Hanya bisa berdiam diri
Melihat keadaan ini
Sampai akhir hayat nanti
Tak pernah sesali semua ini
Karena ada hikmah tersembunyi
Hikmah itu pasti ditemui
Dengan indahnya berada dalam naungan Illahi Rabbi. . .
Di iringi nyanyian diri
Yang sedang duduk sendiri
Di bawah tetesan air hati
Tak pernah menjadi seperti ini
Kejadian yang membuat begini
Membuat bahagia menjadi sedih
Merubah sedih menjadi merintih
Beribu tetes air mata menghampiri
Tak mampu membuatnya kembali
Hanya bisa berdiam diri
Melihat keadaan ini
Sampai akhir hayat nanti
Tak pernah sesali semua ini
Karena ada hikmah tersembunyi
Hikmah itu pasti ditemui
Dengan indahnya berada dalam naungan Illahi Rabbi. . .
Selasa, 04 Mei 2010
Ya Robb..
Apa yang harus aku lakukan padanya
Apakah langkah yang ku ambil benar adanya
Aku takut aku semakin terlena pada dirinya
Aku takut karena tindakanku
Membuat dia membenciku
Aku takut dia menjauhiku
Dan aku takut akan kesalahanku
Hari-hari yang ku lalui begitu indah
Waktu yang ku korbankan untuknya amat indah
Akankah bilaku jujur semua hari-hariku kembali indah
Aku tak yakin semua akan sama indah
Ya Robb..
Berikan aku petunjuk-Mu
Karena aku takut atas kesalahanku pada-Mu
Agar aku tau jalan yang menuju kebenaran-Mu
Apa yang harus aku lakukan padanya
Apakah langkah yang ku ambil benar adanya
Aku takut aku semakin terlena pada dirinya
Aku takut karena tindakanku
Membuat dia membenciku
Aku takut dia menjauhiku
Dan aku takut akan kesalahanku
Hari-hari yang ku lalui begitu indah
Waktu yang ku korbankan untuknya amat indah
Akankah bilaku jujur semua hari-hariku kembali indah
Aku tak yakin semua akan sama indah
Ya Robb..
Berikan aku petunjuk-Mu
Karena aku takut atas kesalahanku pada-Mu
Agar aku tau jalan yang menuju kebenaran-Mu
Langganan:
Postingan (Atom)
